8.5 C
New York
Monday, April 12, 2021
Home Uncategorized Limbah Popok Dapat Dimanfaatkan untuk Corong Peredam Suara

Limbah Popok Dapat Dimanfaatkan untuk Corong Peredam Suara

Pendidik UNS manfaatkan limbah popok buat alat peredam suara ruangan.

REPUBLIKA. CO. ID, SURAKARTA — Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prabang Setyono berhasil memanfaatkan limbah popok sekali pakai sebagai alat peredam suara dalam ruangan.

“Popok sekali pakai itu dipilih karena memenuhi kriteria sasaran baku peredam suara atau panel akustik, salah satunya karena momok sekali pakai berbentuk serabut-serabut, ” kata Dosen Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS ini di Solo, Selasa (12/5).

Selain itu, katanya, momok ini memiliki celah pada bubuk-bubuk di dalamnya yang tersusun secara bertumpuk. Dengan serupa itu, menurut dia, gelombang suara mau lebih mudah diredam atau diresapkan apabila celahnya bertumpuk-tumpuk.

“Celah yang bertumpuk ini lebih efektif daripada dengan datar, ” katanya.

Meski demikian, lanjutnya, popok yang fungsi utamanya buat menampung kotoran tentu setelah dipakai akan mengandung bakteri dan beraneka macam kuman bawaan dari hasil ekskresi tubuh.

“Dengan demikian pasti menimbulkan aroma tidak sedap. Oleh karena itu, dalam proses pembuatannya harus terlebih dahulu dilakukan disinfektan dengan larutan clorin, kemudian dikeringkan di kolong sinar matahari supaya mikroba infeksinya hilang, ” katanya.

Selain itu, dengan estetika penggunaan popok bekas memakai ini akan terlihat kurang rapi. Dengan demikian, ia juga menunggangi kertas daur ulang yang lazim digunakan sebagai tempat menyimpan telur sebagai wadah dari popok itu.

“Jadi, kertas ini dijadikan sebagai luaran. Bentuknya kan berlekuk-lekuk, ini sangat bagus untuk meredam suara. Selain itu, secara estetikanya juga molek, tetapi karena ini masih arketipe jadi belum terlalu rapi pengemasannya, ” katanya.

Sementara itu, penelitian tersebut dilakukan selama delapan bulan tepatnya pada tahun 2018. Dipilihnya limbah popok sekali pakai menjadi teknologi tepat guna dan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Ia mengaku resah secara keberadaan limbah tersebut yang suram terurai dan jumlahnya sangat luhur di Indonesia.

“Selain itu, saya selalu melihat pola kebiasaan impor peredam suara atau panel akustik berbahan ‘glasswool’ di Indonesia yang mempunyai harga cukup mahal, ” katanya.

Ingat akan kebutuhan strategi industri bakal produk tersebut, ia menggandeng rekan lain dari Teknik Industri buat menyusun strategi pemasaran yang bertemu dengan kebutuhan industri hingga sampai ke hilir.

“Saya juga berencana menyelenggarakan penelitian payung bersama mahasiswa untuk terus mengembangkan produk ini. Era ini kami masih dalam tahap sosialisasi prototipe dan pengajuan proposal pendanaan penelitian lebih lanjut. Kami sangat berharap segera difabrikasi dan dapat sampai ke hilir, jadi bermanfaat bagi masyarakat dalam rasio besar, setidaknya untuk memenuhi keinginan dalam negeri dulu, ” katanya.

sumber: Antara

Most Popular

Inggris Buka Kembali Pertokoan

REPUBLIKA.CO.ID, BIRMINGHAM -- Sejumlah antrian tampak mengular di luar pertokoan di seluruh Inggris pada Senin (12/4). Warga Inggris berbondong-bondong keluar rumah setelah pemerintah mencabut lockdown nasional selama tiga bulan. Saat matahari terbit,...

Berhati-hatilah dengan Slot Online

Slot online, dengan disebut hanya secara mesin slot, dempak, mesin buah, slot atau apapun sebutannya, adalah mesin pertaruhan elektronik yang menghasilkan permainan...

4 Macam Doa Buka Puasa di Bulan Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menyambut Bulan Ramadhan harus dengan hati yang senang. Selain itu, jangan lupa saat menjalani ibadah puasa harus diawali niat berpuasa dan berbuka puasa. Namun, doa berbuka puasa...

Sejumlah Rumah Warga di Kabupaten Malang Rusak Akibat Gempa

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sejumlah rumah warga di Kabupaten Malang dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,7 di wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa. Bahkan, kerusakan juga dilaporkan terjadi di...

Recent Comments