8.5 C
New York
Friday, September 4, 2020
Home Uncategorized Isolasi dan Masker Berperan Kendalikan Flu Spanyol

Isolasi dan Masker Berperan Kendalikan Flu Spanyol

Antropolog Unair sebut Flu Spanyol mewabah pada Jawa Timur pada masa Perang Dunia I.

REPUBLIKA. CO. ID, SURABAYA — Antropolog Universitas Airlangga Surabaya Toetik Koesbiarti menyatakanisolasi mandiri, menjaga kejernihan dan penggunaan masker turut berperan penting dalam pengendalian Flu Spanyol yang mewabah di Jawa Timur pada masa Perang Dunia I.

“Ada tiga peristiwa yang berperan penting mengendalikan Flu Spanyol waktu itu, yakni isolasi yang saat ini disebut isolasi mandiri, menjaga kebersihan atau masa ini cuci tangan dan penerapan masker, ” ujarnya di Surabaya, Rabu.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair tersebut menjelaskan Flu Spanyol adalah virus yang bercabul di dunia pada masa Perang Dunia I dan mewabah di Indonesia atau di Jatim di dalam rentang tahun 1918 hingga tarikh 1920.

Flu Spanyol bukanlah berasal dari Spanyol, tetapi disebut demikian karena ada prajurit yang kebetulan terkirim ke Eropa dan saat itu ditemukan epidemi flu di Spanyol.

Flu Spanyol merebak di Nusantara, seperti di Palembang dan paling banyak Jawa karena banyak prajurit yang singgah di pelabuhan Jawa.

“Orang yang terinfeksi Flu Spanyol akan mengalami hangat. Tapi masyarakat saat itu tidak tahu dan menanggap jika menikmati demam berarti sedang terkena kolera atau disentri yang terlebih dahulu merebak, ” ucap lulusan Universitas Hamburg, Jerman tersebut.

Banyaknya orang yang terinfeksi, sekapur Toetik, membuat pemerintah kolonial membongkar-bongkar tahu penyebabnya dan kesimpulan tengah saat itu wabah penyakit dibawa oleh angin.

Kemudian oleh dokter Belanda disimpulkan kalau demam tersebut disebabkan oleh nyamuk yang ternyata membuat rancu sebab adanya demam yang disebabkan sebab nyamuk dan penyakit malaria.

Toetik memaparkan pada akhirusanah 1918 Jawa Timur terkena pagebluk Flu Spanyol, dengan Surabaya menjadi pusat penyebaran, sama seperti zaman ini.

“Orang lokal menganggap wabah ini sebagai gangguan dari mahkluk halus. Sehingga masyarakat pun memberikan persembahan dan darah hewan tersebut ditabur di ajaran rumah, ” katanya.

Pada tahun 1920, lanjut dia, korban Flu Spanyol paling banyak berasal dari Jatim.

Wabah Flu Spanyol menewaskan dekat tiga persen dari populasi dalam Indonesia yang menjadi negara ke-3 korban paling banyak setelah Amerika Serikat dan China.

“Setelah diselidiki, ada kesimpulan bahwa virus tersebut berasal dari asing yang dibawa melalui kerumunan orang yang saat itu dibawa lantaran kapal, ” katanya.

Pemerintah Hindia Belanda pun memproduksi Undang-Undang semacam surat izin masuk dengan pernyataan dewan kesehatan atau sama seperti saat ini.

Untuk mengatasi wabah itu juga diberikan obat herbal atau ramuan tradisional, lalu dari bagian obat medis juga ada, namun belum vaksin paten.

“Yang jadi persoalan adalah analisis yang tidak tepat. Seperti karakter terpapar Flu Spanyol didiagnosis malaria sehingga diberikan obat bernama kina untuk membunuh demam. Juga dikasih obat candu untuk menurunkan rasa sakit, ” tuturnya.

Sementara untuk penggunaan masker, Toetik belum menemukannya secara khusus.

Tapi berdasar analisisinya, sebab Indonesia saat itu di lembah pemerintah Kolonial Hindia Belanda, penggunaan masker pasti ada merujuk penggunaan masker di tempat asal epidemi itu di Spanyol, wilayah Eropa dan Amerika Serikat.

“Saya tidak menemukan tulisan secara spesifik penggunaan masker. Tapi menurut analisa saya ada indikasi penerapan masker karena pengaruh dari Negeri Hindia Belanda saat itu, ” katanya.

Mengenai contoh penularannya, Flu Spanyol hampir sepadan seperti Covid-19 saat ini.

Yang membedakan adalah Flu Spanyol banyak menyebabkan anak bujang meninggal dunia karena tentara saat itulah adalah pemuda-pemuda yang berkumpul.

“Saat ini objek paling banyak orang tua dengan komorbid, ” ujarnya.

Sementara untuk pola penangan nisbi sama seperti penanganan Covid-19 serta masyarakat diimbau melakukan isolasi, melestarikan kebersihan dan bermasker.

“Dahulu juga ada isolasi sendiri. Kemudian mereka menyebut menjaga kejernihan tubuh, saat ini cuci tangan dan bermasker. Kurang lebih sedang sama, ” katanya.

sumber: Antara

Most Popular

Dorong Penyaluran KUR, BCA Gandeng BPR

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA-- PT Bank Central Asia Tbk bekerja sama dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kali tersebut, BCA melakukan perjanjian kerja setara channeling KUR...

Eijkman: Virus Covid-19 di Indonesia Mirip dengan di Asia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang beredar di Indonesia memiliki kekerabatan erat dengan virus yang bersirkulasi di wilayah Asia....

Tips Pergi Keluar yang Aman Bersama Anak

REPUBLIKA.CO.ID, Berbulan-bulan di dalam rumah tentu membawa kejenuhan, khususnya bagi anak-anak. Di era new normal, mungkin tak ada salahnya sesekali keluar rumah bersama si kecil.Tapi ikuti tips ini saat...

Kiai Didin: Generasi Memakmurkan Masjid Dimuliakan Allah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor, Prof KH Didin Hafiduddin mengatakan, masjid adalah tempat yang paling mulia. Dalam hadits Rasulullah SAW juga bersabda, tempat yang paling baik...

Recent Comments