8.5 C
New York
Saturday, October 31, 2020
Home Uncategorized Budi Menerima dan Mensyukuri Pemberian Orang

Budi Menerima dan Mensyukuri Pemberian Orang

Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik daripada lengah di bawah. Memberi itu lebih baik daripada menerima, apalagi meminta-minta.

Bila kemudian ditakdirkan bisa memberi pada orang lain, maka Islam melarang umatnya untuk berharap balasan, pujian dan ucapan terima kasih meskipun. Memberi harus dimaksudkan hanya untuk mendapatkan ridha Allah semata.

Dalam QS. Al-Insan: 9, Allah merekan suara hari orang-orang yang ikhlas, “Sesungguhnya kami meluluskan makanan kepadamu hanyalah untuk mencagarkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. ”

Kendati demikian, bila seseorang mendapatkan tambahan nikmat melalaikan pemberian orang lain, maka ia harus bersyukur dan mensyukurinya. Pemberian tidak selalu bersifat materi. Penghormatan dan kemuliaan non-materi juga periode dari pemberian.

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah dianggap bersyukur kepada Allah seseorang yang tidak bersyukur kepada sesama manusia. ” Setidaknya, ada empat adab (cara) mensyukuri pemberian orang (sesama manusia).

Pertama , dengan berterima kasih, yaitu di bibir mengucapkan apresiasi kepada yang meluluskan, seseorang hendaknya setelah “terima” suka untuk “mengasihkan” kepada yang asing. Kisah menarik terjadi ketika Umar ibn al-Khattab menghadiahkan makanan kesukaannya, gulai kepala kambing kepada tetangganya.

Rupanya, tetangga dengan dianggap layak oleh Umar untuk menerima sedekah itu ingat dan ingin mengamalkan sebuah ayat di Al-Quran surat Ali-Imran: 92, “Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, had kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa sekadar yang kalian nafkahkan, maka nyata Allah Maha Mengetahuinya”.

Maka, kepala kambing siap saji itu dihadiahkan kepada tetangganya yang lain. Menariknya, masakan nikmat tersebut akhirnya berpindah sampai rumah ketujuh. Tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya itu, rumah ketujuh ini tahu kalau makanan ini kesukaan Umar.

Diantarkanlah masakan tersebut minus tahu bahwa kepala kambing tersebut berasal dari dapur rumah Umar. Akhirnya, masakan kepala kambing itu kembali lagi kepada pemiliknya, Umar ibn al-Khattab (HR. Al-Baihaqi di dalam kitab Syuabul Iman: 3/259 sebab Abdullah ibn Umar).

Dalam bahasa sederhana, bersyukur tersebut berterima kasih, meskipun makna “bersyukur” jauh lebih luas dari sekedar “berterima kasih”. Tetapi, setidaknya, begitulah salah satu cara mensyukuri mas orang lain. Apa yang dikerjakan oleh Umar dan tetangganya menunjukkan mereka se­ba­gai pribadi yang melimpah (giving oriented personality atau abundant personality).

Ke-2 , menggunakan pemberian orang asing sesuai dengan kehendak yang meluluskan. Jika pemberian itu berupa makanan, maka hendaklah didahulukan untuk dimakan dari makanan sendiri.

Jika makanan kita sendiri berlebih dan tidak memungkinkan memakannya karena pantangan kesehatan atau yang asing, maka segeralah diberikan kepada orang lain. Meski kita tidak sudah memberi tahu kepada yang memberi tentang apa yang kita lakukan, namun Allah mengetahuinya. Dengan izin-Nya, Yang Maha Pemberi Rejeki itu akan menambahkan nikmat-Nya kepada mereka yang mensyukuri pemberian orang asing.

Ketiga , pemberian itu merupakan sebuah kredit. Dalam Islam tidak ada istilah “balas jasa” atau “balas budi”. Tetapi, Islam mengajarkan agar menangkis penghormatan, kemuliaan dan penghargaan itu dengan lebih baik.

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’: 86, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Oleh sebab itu balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. ” Jika tidak mampu, doakan saja. Mintakan ampun jiwa pemberi itu kepada Allah.

Keempat , berdoalah untuk mereka yang memberi. Doamu akan menenangkan itu (sakanun lahum). Dalam QS. At-Taubah: 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tersebut kamu membersihkan dan mensucikan itu dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) sakinah jiwa bagi mereka. dan Tuhan Maha mendengar lagi Maha pelajaran. ” Salah satu doa yang makbul adalah doa di mana seseorang yang didoakan tidak terang jika ia sedang didoakan. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

*Penulis adalah guru SMA Muhammadiyah I Sumenep Bahrus Surur-Iyunk.

Adab Menerima dan Mensyukuri Pemberian Orang

sumber: Suara Muhammadiyah

Most Popular

Venue Akuatik Olimpiade Tokyo Diresmikan

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA --  Gubernur Tokyo Yuriko Koike secara resmi membuka venue akuatik yang akan digunakan buat Olimpiade tahun depan, Sabtu (24/10). Dilansir Reuters, Sabtu (24/10), peresmian venue akuatik seharusnya dilakukan dalam...

Transportasi Pelanggar Protokol Kesehatan Dikenai Hukuman

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA -- Gajah Perhubungan Budi Karya Sumadi menguatkan akan menyiapkan sanksi bagi operator transportasi yang tidak mematuhi aturan kesehatan saat operasional libur lama Oktober 2020. Dia menegaskan, Kemenhub...

Gubernur Jabar Tinjau Simulasi Vaksinasi Covid-19 di Depok

REPUBLIKA. CO. ID,   DEPOK -- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, didampingi Pjs Wali Kota Depok, Dedi Supandi, meninjau kegiatan simulasi vaksin Covid-19 di Puskesmas Tapos, Kota Depok, Kamis (22/10). Selain itu, mereka...

Berkali-Kali Jatuh dari Sepeda, Wulan Guritno tak Kapok

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA -- Sejak duduk dalam bangku SMP, Wulan Guritno sudah hobi berolahraga. Perempuan yang saat ini dikenal sebagai aktris dan cara itu melakukannya demi kesehatan, tidak karena ingin mencapai...

Recent Comments


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/helpmetosleep/public_html/wp-includes/functions.php on line 4670