8.5 C
New York
Tuesday, October 27, 2020
Home Uncategorized Karya besar Hamka dari Penjara

Karya besar Hamka dari Penjara

Dari penjara, Hamka melahirkan mahakarya.

REPUBLIKA. CO. ID, Oleh Terjamin Ginting / Jurnalis Senior Republika


Dari balik jeruji penjara, seorang ulama menyelesaikan sebuah karya besar. Tafsir Al-Azhar. Itulah salah mulia mahakarya dari Buya Hamka, yang ia kerjakan di dalam tangsi. Karya tersebut dihargai dengan melangsungkan profesor dari Universitas Al-Azhar pada Kairo, Mesir. Tafsir 30 bagian isi Alquran dengan bahasa dengan ringan sehingga mudah dipahami. Menakjubkan, karena ia menyelesaikannya di pada penjara.

Tanpa meniti pengadilan, ia dipenjara oleh sahabatnya, Bung Karno. Seorang presiden & juga panglima besar revolusi Nusantara. Buya dipenjara karena tidak akur dengan pemikiran Soekarno soal Nasakom, atau kepanjangan dari nasionalisme, agama (Islam), dan komunisme. “Bagi hamba, agama Islam tak dapat dicampur dengan komunis. Tidak mungkin, ” kata Buya Hamka. Ia biar menentang keras pemikiran Soekarno mencuaikan kampanye terbuka, baik saat berceramah maupun dalam pertemuan-pertemuan terbuka.

Buya Hamka juga terus-menerus mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) waktu itu. Majalah yang dibentuknya, Panji Masyarat, pun pernah dibredelSoekarno karena menimbulkan tulisan Bung Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita” yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin dengan dijalankan Bung Karno.

Sampailah pada suatu ketika, era sedang memberikan pengajian kepada dupa an ibu-ibu pada bulan Ramadhan, ia ditangkap aparat keamanan arah perintah Presiden Soekarno. Pengalaman tersebut menerbitkan rasa pahit pada Hamka. Namun, ia mudah memaafkan dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Ia tetap menjalin silaturahim dengan keluarga Bung Karno.

Ketika Bung Karno meninggal, Buya Hamka memberanikan diri buat menjadi imam shalat jenazah bagi masyarakat yang telah berduyun-duyun memenuhi Wisma Yoso (Kini Museum Satria Mandala, Jakarta). Ia tak menuntut pada Bung Karno yang pernah memenjarakannya tanpa pengadilan. Ia selalu tak takut pada pemerintahan mutakhir pimpinan Jenderal Soeharto. Saat tersedia yang bertanya, mengapa dia bakal memimpin shalat jenazah bagi orang yang pernah menzaliminya? Buya Hamka menjawab, “Karena Bung Karno saudara saya. ”

Hamka memang bukan sekadar ulama luhur, ia juga sastrawan dan wartawan. Karyanya, antara lain, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wickj, dan Merantau ke Deli. Banyak karya Hamka tidak hanya dipublikasikan oleh penerbit nasional seperti Balai Pustaka dan Wacana Bulan Bintang, tetapi juga diterbitkan di beberapa negara asing. Makin, dirilis juga di berbagai kedudukan, blog, dan media informasi lainnya.

Siapa pun tak bakal menyangka jika seorang dengan pada awalnya belajar secara otodidak, belakangan justru banyak menda patkan gelar profesor dan doktor honoris causa dari beberapa perguruan agung terkemuka. Karya-karyanya terutama di bagian sastra telah melambungkan nama keturunan dan mengharumkan nusantara hingga ke mancanegara.

Hamka ialah ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada 1975- 1981. Dia berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara kaum muslimin. Hamka menolak mendapat gaji sebagai kepala umum MUI. Mantan menteri petunjuk Mukti Ali mengatakan, “Berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap marga dan negara. Tanpa Buya, institusi itu tak akan mampu muncul. ”

Ia turut mengisi tempat yang penting pada dalam perjuangan kemerdekaan nasional pada Sumatra Barat. Pada 1950-an, tempat aktif dalam Dewan Pimpinan Masyumi. Salah satu statemen yang menggambarkan muruah (martabat) sebagai pemimpin pengikut antara lain tatkala politik menjadi panglima sekitar 1950-an, dia mengutarakan, “Kursi-kursi banyak dan orang yang ingin pun banyak. Tetapi, kursiku adalah buatanku sendiri. ”

Sebagai pengawal akidah umat, Hamka sebagai ketua umum MUI menyampaikan masukan kepada Presiden Soeharto soal toleransi antarumat beragama. Menurutnya, kalau hendak menciptakan kerukunan antarumat beragama, orang yang sudah mematuhi jangan dijadikan sasaran untuk kampanye agama yang lain.

Sampailah suatu masa, ketika Hamka menulis surat kepada Menteri Petunjuk Letjen Alamsyah Ratuperwiranegara, tertanggal 21 Mei 1981. Isinya pemberitahuan kalau sesuai dengan ucapan yang disampaikannya pada pertemuan Menteri Agama secara pimpinan MUI pada 23 April, Hamka meletakkan jabatan sebagai kepala umum MUI.

Apa alasan Hamka? Ia mengungkapkan di dalam pers, pengunduran dirinya disebabkan sebab fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Masukan MUI tersebut pokok isinya menegah umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan meluhurkan Nabi Isa. Menghadiri perayaan antaragama adalah wajar, terkecuali yang berkelakuan peribadatan, antara lain, misa, kebaktian, dan sejenisnya.

Masukan itu sempat menyudutkan Menteri Petunjuk Alamsyah. Hingga, Alamsyah sempat menyatakan bersedia berhenti sebagai menteri. Fatwa itu sebenarnya wajar saja, tetapi keburu bocor dan heboh. Tahu kehebohan itu karena ada desakan pencabutan fatwa, Hamka bersikap. “Tidak tepat kalau Saudara Menteri Petunjuk yang harus berhenti. Itu bermakna gunung yang harus runtuh. Sayalah yang bertanggung jawab atas beredarnya fatwa tersebut. Jadi, sayalah dengan mesti berhenti, ” kata Hamka.

Dua bulan sesudah itu, ulama besar Hamka meninggal di Jakarta pada Jumat, 24 Juli 1981 (22 Ramadhan 1401 H) dalam usia 73 tahun. Buya Hamka, seorang ulama, kepala, pujangga, pengarang, sejarawan, dan pendidik dalam arti yang luas, telah lama meninggalkan kita. Namun, pengabdian, karya, dan sumbangannya dalam membentuk kesadaran umat Islam dan cita-cita bangsa tetap dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini.

Kemarin, akhirnya pemerintah menobatkan tujuh pahlawan nasional. 3 di antaranya tokoh Islam populer, yakni Buya Hamka, Sjafruddin Prawiranegara dan Idham Chalid. Buya Hamka bukan cuma dikagumi di dalam negeri, di Malaysia, misalnya, ia menjadi anutan bagi pemuka-pemuka petunjuk. Bahkan, Museum Hamka di desa kelahirannya, justru dibangun oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), bukan oleh pemerintah negeri ini. Ironis.

Begitulah sosok seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA, ulama besar kelahiran Negeri Sungai Batang, di tepi Danau Maninjau yang molek dalam tanah Minangkabau, Sumatra Barat. Seorang ulama yang hingga kini menjelma ikon pendakwah besar yang tak mau digaji oleh pemerintah dan berani menentang dua presiden, Soekarno dan Soeharto.

Most Popular

Venue Akuatik Olimpiade Tokyo Diresmikan

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA --  Gubernur Tokyo Yuriko Koike secara resmi membuka venue akuatik yang akan digunakan buat Olimpiade tahun depan, Sabtu (24/10). Dilansir Reuters, Sabtu (24/10), peresmian venue akuatik seharusnya dilakukan dalam...

Transportasi Pelanggar Protokol Kesehatan Dikenai Hukuman

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA -- Gajah Perhubungan Budi Karya Sumadi menguatkan akan menyiapkan sanksi bagi operator transportasi yang tidak mematuhi aturan kesehatan saat operasional libur lama Oktober 2020. Dia menegaskan, Kemenhub...

Gubernur Jabar Tinjau Simulasi Vaksinasi Covid-19 di Depok

REPUBLIKA. CO. ID,   DEPOK -- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, didampingi Pjs Wali Kota Depok, Dedi Supandi, meninjau kegiatan simulasi vaksin Covid-19 di Puskesmas Tapos, Kota Depok, Kamis (22/10). Selain itu, mereka...

Berkali-Kali Jatuh dari Sepeda, Wulan Guritno tak Kapok

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA -- Sejak duduk dalam bangku SMP, Wulan Guritno sudah hobi berolahraga. Perempuan yang saat ini dikenal sebagai aktris dan cara itu melakukannya demi kesehatan, tidak karena ingin mencapai...

Recent Comments


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/helpmetosleep/public_html/wp-includes/functions.php on line 4669